Monday, 21 May 2012

#51 Agenda Studio Hanafi: Menyaksikan Konser Kebangkitan Perdamaian Dunia Leo Kristi

Dititipi tugas untuk mencari mobil rental ternyata sulit, kawan. Tentu saja sulit karena sejak kamis lalu di seluruh penjuru nusantara sedang mewabah demam long weekend. Orang-orang berburu kehangatan, berkeliaran di jalanan, berdesakan menuju tempat-tempat rekreasi, bergotong-royong bersama keluarga, sahabat, dan kolega mengoyak rutinitas yang dingin. Sudah jadi peristiwa yang biasa jika penduduk Jabodetabek kisruh hijrah ke luar kota. Berkendara sepeda, bajaj, andong, motor, mobil, dan segala rupa alat transportasi, atau mungkin ada juga yang rela berjalan kaki untuk hengkang sementara dari kesibukan maksimum kota-kota. Saya menyusuri jalan Meruyung, Depok hingga Karang Tengah, Cinere, putar arah hingga Margonda, Depok, mengetok setiap pintu-pintu kantor usaha jasa rental mobil, hasilnya nihil. Ajaib!

Begitulah orang-orang haus akan rekreasi. Begitulah orang-orang sesungguhnya hampir kewalahan menghadapi penatnya hari-hari. Begitulah orang-orang...

Hmmm, apa mau dikata. Saya melapor saja seadanya. "Sudah, sewa angkot saja," jawaban Bunda. Tidak lama, langit turun ke bumi diwakili oleh angkutan umum. Warna biru muda di depan Studio, serasi dengan legam aspal, gagah sekali.

Kami berangkat: Saya, Mas Djati Nurani, Arum, Ajat, Novi, Rini, Mimi, Mayang, Nabila beserta kawan kecil lainnya. Sayangnya Bunda tidak bisa ikut karena harus menemani anaknya dan menunggu kepulangan Mas Hanafi dari Hongkong.
,
Jika saja di setiap perjalanan selalu bersama dengan kawan-kawan kecil, pasti akan ramai dan mengasyikkan sekali. Selalu ada gelak tawa dan permainan. Bayangkan, motor vespa atau corak loreng yang terlihat di perjalanan saja bisa dijadikan permainan oleh mereka! Dan memang sangat seru! Begitulah anak-anak, setiap saat selalu menyenangkan, sangat tak berbeban. Menyenangkan!



Awalnya, saya menduga kawan-kawan kecil akan kecewa jika menggunakan kendaraan tanpa AC yang jalannya lambat, bising, dan selalu bergetar disana-sini. Ternyata saya salah menduga. Kawan-kawan kecil saya bukan seperti anak-anak kecil zaman sekarang yang terbiasa bermanja dengan kenyamanan. Mereka asyik-asyik saja, ramai-ramai saja.

Begitu sampai di daerah Sentul, kami mulai bingung menuju "Gedung Perdamaian", arah Citeureup. Bertanya kepada pedagang di pinggir jalan jadi keputusan bersama. Setelah bertanya, kami dianjurkan melanjutkan perjalanan menuju tikungan ke kanan. Sampai di tikungan kedua, kami buta arah. Kami berhenti dan bertanya lagi. Karena tidak ada yang memiliki keterangan detil mengenai gedung pelaksanaan konser, insting lah yang hadir, Mas Djati beranggapan bahwa Konser Kebangkitan Perdamaian Dunia Leo Kristi dilaksanakan di Taman Budaya. Diberilah kami arahan yang sangat jelas mengenai Taman Budaya di daerah Sentul City.

Sepi.

Tidak ada sesuatupun petanda sedang diadakannya sebuah acara. Sms, telfon, dan akses informasi dari jejaring sosial menjadi percuma karena sinyal telepon genggam yang lemah. Saat itu bukan lagi kami buta arah, melainkan buta informasi. Dan, kawan-kawan kecil terlihat mulai kehilangan asa, dan, dan, pasti mereka merasa lapar, sementara udara semakin dingin. 

Berhasil. Informasi dari jejaring sosial berhasil diakses. Konser tepatnya dilaksanakan di Auditorium Gedung Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, mulai pukul 19.30. Kami bertanya kepada orang-orang terdekat. Baru diketahui ternyata kami harus putar arah jika ingin menuju Citeureup. Wah! Baru kami sadari ternyata pedagang tempat kami bertanya pertama tadi ternyata pendatang baru yang juga sama seperti kami, buta arah! Waktu saat itu tengah menunjuk pukul 19.20.

Dalam keadaan darurat, generasi anak-anaklah yang pertama wajib diselamatkan. Makanan berat yang sudah dibawa sejak keberangkatan, terpaksa diberikan dalam perjalanan. Kawan-kawan kecil menyantap makan malam dalam angkutan umum sewaan yang berjalan penuh goncangan dan ombang-ambing. Sedih rasanya...

Kawan-kawan kecil selesai makan. Kami pun hampir tiba di tempat tujuan. Kali itu, sudah semakin jelas arah perjalanan. Baliho acara yang begitu besar terlihat dari kejauhan.

Membelok, lurus, membelok, lurus, jalan panjang, membelok, jembatan, menanjak, melandai, membelok, menanjak, membelok, menanjak, jalan panjang melandai... Ternyata kami belum hampir sampai. Jalanan gelap. Beberapa tentara terlihat berjaga di pinggir-pinggir jalan. Kami berhenti di hadapan jeruji di tengah jalan, di sampingnya terdapat sebuah pos penjagaan. Ya! Kami berada di arah yang benar. Angkutan melaju, mesin menderu. Jalanan menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, melandai, menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, menanjak, membelok, melandai, menanjak, menanjak, menanjak, menanjak...melandai, membelok...

Beberapa tentara berjaga di tengah jalan. Terlihat dari balik helm biru bertuliskan "UN" tentara-tentara itu, mobil-mobil pribadi memenuhi lahan parkir. Kami tiba di tempat. Terlambat 20 menit. Di depan pintu masuk, saya sempat melihat ke belakang. Kendaraan yang kami gunakan sangat mudah dikenali. Biru langit  angkutan umum sewaan begitu cerah ceria di tengah kerumunan mobil-mobil pribadi meski di malam hari.

Lighting berkilauan, musik menggema, AC begitu menusuk suhu ruangan, dan penonton bersorak bertepuk tangan. Begitulah kami memasuki auditorium...


Saya menangkap gambar sekenanya. Konser ini begitu bergelora, penonton, penata cahaya, penata kamera, penyanyi, pemusik, Om Leo Kristi, semua bergelora.









Konser pun usai...



Kawan-kawan kecil kelelahan...


Saya, Ajat, Mayang, Mas Djati, Novi, Dinda, dan tentu Pak Sopir masih tetap terjaga...


Mimi tertidur kelelahan. Saat itu badannya sedang agak kurang sehat....


Kawan-kawan kecil baru terbangun ketika sudah akan sampai di Studio Hanafi. Kira-kira pukul 00.30... Mereka terbangun oleh goncangan dan ombang-ambing di dalam angkutan. Gang Manggis, jalan masuk menuju Studio dari arah jalan raya Cinere-Parung Bingung, begitu 'abstrak', dan cekung bercorak-corak.


Di Studio keesokan harinya...


Kami berlatih vokal dan musik...


Bermain musik dan menyanyikan lagu "Lenggang-lenggung Badai Lautku", "Nyanyian Pantai", "Nyanyian Fajar", "Sayur Asam Kacang Panjang", "Lewat Kiara Condong", "Malam-malam Kerinduan.....................di Desa Pelukis yang Petani", dan "Pohon Kemesraan".


Setelah menyaksikan secara langsung penampilan Om Leo Kristi, kami jadi lebih bersemangat bermain musik dan bernyanyi. Perasaan kami jadi lebih kuat. Senyum kami jadi lebih lebar. Wajah kami jadi lebih berseri-seri. Kawan-kawan juga bisa bernyanyi dan bermain musik bersama kami, bermain teater, menari, berpuisi, melukis, membaca buku, bermain tanah liat, dan sangat bebas cengkrama dengan kami. Ayo,  ayo berkunjung ke Studio Hanafi... ^^

Terima kasih, Bunda, Mas Hanafi, Studio Hanafi. Terima kasih Mas Djati. Terima kasih Om Leo...

Inilah rekreasi kami, anak-anak sekaligus kawan-kawan dari Studio Hanafi bagi siapa saja, dalam mengisi long weekend kami. Kami mengadakan perjalanan yang sederhana lalu kami mengimajinasikannya dan berkreasi. Lalu tentang rekreasimu, bolehkah kami mengetahuinya, kawan?

5 comments:

Unknown said...

Wah...hebat perjuangannya Kang Deni, Studio Hanafi. Semoga pengalaman cantik nan mengharukan serta penuh gelora kebangsaan yang kuat itu tergores indah dan terus tertanam dihati sanubari bocah-bocah asuhannya ya. Salam dan jabat tangan erat-erat saudaraku!

Deni Kurnia said...

Alhamdulillah. Dalam banyak cara dan jalan, semoga pengalaman-pengalaman cantik lainnya dapat juga tergores indah dan tertanam di hati sanubari kawan2 lainnya. Terutama, kawan2 kecil sekitar kita... Terima kasih, Kang Abdullah. Salam dari StudioHanafi

Unknown said...

(^^)d

Unknown said...

ka deny...

Unknown said...

ks deny, bantuin jat, dongk.. cra buat bloggernya.

Post a Comment

 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com