Saturday, 19 May 2012

#50 Di Antara Mimpi dan Realita

Genap setengah tahun saya menetap di Sawangan. Tidur di ruang tamu, tanpa memiliki kamar sendiri. Saya bukan tidak mensyukurinya. Justru sebaliknya, saya merasa bersyukur sudah diberikan tempat berteduh dan kesempatan tinggal bersama Oom Joko dan Tante Hawa, bersama kedua anaknya, Langit dan Bumi, dan bersama kedua pengasuh anaknya, Mbak Tuti dan Yati. 

Hampir setiap hari rutinitas selalu sama. Saya anggap selalu sama agar keseharian yang saya tulis ini dapat lebih mudah dikisahkan. Seperti ini, misalnya:

Setiap pagi, kedua pengasuh, Mbak Yati dan Mbak Tuti bangun selalu lebih awal dari yang lain. Tentu mereka bangun untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebagai kewajiban terhadap Oom dan Tante, juga kewajiban pribadinya seperti beribadah sholat subuh. Disusul oleh Tante, bangun, sholat, dan bersiap diri. Lalu Tante membangunkan Oom dengan 'ramai'. Aktivitas 'ramai' itu kerap kali menarik saya untuk ikut bangun, atau malah pindah tempat ke kamar Oom dan Tante untuk tidur kembali. Saya akui saya masih pemalas. Saya masih terlalu mudah tergoda oleh kamar dengan kasur yang empuk, selimut tebal, dan penyejuk udara. Sering juga malah saya baru tidur setelah seisi rumah terbangun sebagai kebiasaan 'mahasiswa yang tidak pernah tidur di malam hari' yang belum bisa dikendalikan.

Bumi kerap bangun lebih awal dari kakaknya, Langit. Akhir-akhir ini dia sedang memiliki kebiasaan yang lucu: menggigit 'apa saja di bagian mana saja'. Orang-orang tua dulu menganggap kebiasaan menggigit yang dilakukan balita seperti Bumi itu adalah tanda bahwa gigi-gigi mulai tumbuh. Memang, gigi-gigi Bumi yang terlihat baru ada 6. Balita selalu membuat gemas, 4 gigi di atas, 2 gigi di bawah, dan akan bertambah banyak lagi nanti. Begitulah Bumi. Begitu juga dengan kata-kata pertama yang diucapkannya, seperti 'jatuh'. Bumi mulai  tumbuh dan cerewet. Mungkin kata 'jatuh' itu berasal karena memang Bumi selalu tidak seimbang berjalan dan selalu jatuh. 'jatuh' yang diucapkannya sering terdengar 'datuh' atau 'jacuh', dan kata-kata yang lainnya terdengar aneh seperti bukan kata-kata, lebih seperti bahasa asing, seperti 'aaaaaaaaaaaaa', 'uuuuuuuuu', 'ooooooooooo', atau malah 'a', 'u', 'o' yang pendek saja. Haha, lucu. Tapi sekarang dia sudah lebih seimbang berjalan dan mempunyai kata-kata baru seperti, 'bapak', 'mbak', 'aa', dan tentu 'ibu'. Yang belum berubah adalah kebiasaan menggigit 'apa saja di bagian mana saja', mungkin gusi-gusinya terlalu gatal didorong oleh gigi-gigi yang ingin keluar, hingga ia menjadi liar. Ya, Bumi menggigit 'apa saja di bagian mana saja'. Hati-hati.

Cerita ini masih terlalu singkat. Belum berlanjut pada bagian Langit dan Bumi menangis ditinggal Bapak Ibunya pergi, dan begitu banyak tentang kelucu-polosan mereka, belum juga berlanjut pada kebun kecil di depan-samping rumah, belum juga tentang kolam dan isinya seperti ikan-ikan lele sebesar kaki orang dewasa, belum juga tentang Bon-bon, kura-kura sebesar mangkok yang menghilang, belum juga tentang pencarian ikan-ikan lele yang kabur ke selokan dari empang sebelah rumah yang jebol jika hujan deras, belum juga tentang buah-buah jambu batu, tentang pak de yang ada di iklan 99 tahun rokok dji sam soe, tentang tetangga depan rumah yang baru kemalingan motornya sekitar pukul 03.00 padahal saya baru tidur sekitar pukul 04.30, belum lagi tentang setiap malam setelah saya menggelar karpet dan bed cover di depan tv di ruang tamu, tentang kebiasaan saya seperti sedikit dari kebanyakan orang memakai bantal. Saya memakai bantal bukan untuk kepala bersandar, tapi untuk saya peluk. Erat. Tentang baterai jam yang harus saya copot sebelum tidur karena suara jarum jam dapat membuat saya tidak tidur semalaman. Tentang Studio Hanafi, tentang rumah, tentang Bapak dan Mama, tentang A'egi dan Ica, tentang Mbah dan saudara-saudara, tentang sahabat-sahabat, tentang pementasan teater, tentang lukisan saya, tentang liburan saya, tentang hati, tentang keyakinan, tentang mimpi, tentang realita, tentang begitu banyak hal dalam hidup saya..

Sudah pukul 03.03 saat ini. Saya harus mencabut baterai jam, mematikan tv, laptop dan lampu, lalu tidur. Pagi ini saya harus ke Studio, lalu mencari mobil untuk disewa pergi ke Sentul, Bogor, menyaksikan Konser Leo Kristi bersama kawan-kawan Studio Hanafi.

Sampai jumpa. Selamat sepertiga malam..

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com