Thursday, 6 June 2019

Resensi film: Black Mirror - Bandersnatch

Kira-kira sudah 3 tahun sejak tinggal dan bekerja di Tokyo pikiran saya jadi pop, menye-menye, dan praktis.

Sudah lama saya tidak menonton film dengan perasaan lelah setelahnya.

Stefan Butler, yang diperankan oleh Fionn Whitehead, adalah seorang programmer muda yang berusaha mengangkat novel fantasi menjadi video game di tahun 1984.

Filmnya berbentuk interaktif. Di tengah-tengah cerita, beberapa kali kita akan diminta memilih bagaimana pemeran utama harus bertindak. Waktu untuk memilihnya hanya terbatas selama 10 detik. Jika tidak memilih, maka alur akan berjalan normal.

Kita akan dijebak untuk merasa bebas tapi tak bebas karena dalam waktu yang bersamaan mesti menentukan cerita akan berjalan seperti apa dalam realtime, atau seolah seperti real-time. Kemudian, ending beberapa adegan di dalam film akan berubah-ubah tergantung dari apa yang sudah kita pilih.

Saya dibuat lelah sekaligus mencapai orgasme atau kentang sama sekali. Bahkan seperti dipermainkan karena kerap kali saya memilih pilihan yang disediakan untuk mengulang ke beberapa adegan sebelumnya dan memutuskan pilihan alur yang berbeda, tapi tetap saja endingnya--yang multiple, menggantung dan diluar dugaan--membuat saya menyesal dan bicara kasar. Menontonnya harus pasrah karena apa yang akan terjadi bisa memancing emosi, merasa dibodohi karena ingatan kita tentang alur dan sikap kita terhadapnya 'dikacaukan' sehingga kita maunya mengulang kembali alur yang lain dengan ending yang lain,  seolah-olah kita lah sutradaranya.

Bisa mengulang untuk memilih nasib, mengulang untuk menjalaninya, dan memilih endingnya adalah salah satu kelebihan film ini apalagi bagi kalian yang punya dendam pada pilihan-pilihan hidup yang terlanjur diambil dan tak mungkin untuk diulang dalam kenyataan.

Kalau sudah siap, silakan tonton Black Mirror: Bandersnatch. Kalau sudah nonton, boleh silakan posting komen, misuh-misuh dll. Kalau belum siap, jalani saja hidup ini dengan baik. Jangan mengeluh atau terlalu pasrah, tapi jangan juga ngotot dan sok melampaui Tuhan. Sana cari hiburan lain yang bertanggung jawab dan sedikitnya yang mendidik atau mampu memacu nurani dan pikiran supaya lebih halus, seimbang, dan berfaedah.

Lalu, saya bingung ini resensi film, tips motivasi atau catatan ceramah yang harus saya tulis di agenda kegiatan ramadhan tugas sekolah. Bye.

Taqobalallahu mina wa minkum shiyamana wa shiyamakum, ja'alanallahu.
Minal aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir batin.
Selamat hari raya idul fitri 1440 Hijriah bagi yang merayakan.
 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com