Setahun lewat sudah. Kalau kamu masih belum percaya pada tenaga mimpi dan restu orang tua, mudah-mudahan secepatnya diberi hidayah. Coba cari di toko-toko buku bekas, pasti ada kok itu hidayah. Nah lho. Krik-krik kan?
Iya. Setahun lewat sudah. Tanggal 2 April tahun lalu, saya tiba di Narita. Bandara, yang sejak kecil hingga saya bekerja di perusahaan kertas--terbesar se-Asia Tenggara, katanya--hanya mimpi belaka. Seperti pepatah Sunda, cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, yang berarti tetesan air yang menjatuhi batu, akhirnya akan melubangi batu itu. Bahkan, lebih jauh dari itu: terbelahlah batu, terkuaklah ternyata seperti apa rupa udang dari balik sana. Sama saja. Udang dimana-mana sama saja: bengkok.
![]() |
| Kiri: Nanda kanan: David |
Tapi ini bukan artikel berita yang bahasannya cenderung bercanda, yang biasanya kita baca di internet tentang udang, "Asep mah gitu orangnya" (dear journalist, r u f**king kidding me), batu, tetesan air, dan pepatah Sunda. Hidayah? Apalagi! Ini tentang riwayat. Riwayat saya, yang lahir dan besar di Serang, Banten. Sebentar di Tanjung Priok. Beberapa bentar di Jatinangor dan Bandung. Oh, Tuhan! 5 tahun bukan beberapa bentar untuk kampung magis dan penuh cerita (Cinta? Hah!) seperti Jatinangor. Untuk kaum yang mudah-mudahan masih disebut sebagai mahasiswa, dan yang pernah menjadi mahasiswa di Kawasan Pendidikan Jatinangor, pasti mudah paham. Bagi yang belum paham dengan Jatinangor, perlu dicamkan, Jatinangor lebih viral daripada negara semaju Jepang.
Ini tentang keseharian saja. Seperti nikki bahasa Jepangnya.
Ketika menulis kalimat ini, waktu menunjukkan 03.56 di kawasan Fuji, Shizuoka. Kali lain saya menulis lagi. Maaf, teman. Selamat dini hari. Salam mimpi!

