Bulan lalu saya rekreasi kampus: Jurusan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, UNPAD. Saya lebih akrab dengan nama fakultas yang lama, Fakultas Sastra. Di satu sisi, karena banyak riwayat saya berdampingan dengan nama Fakultas Sastra saat kuliah dulu, di sisi lain, karena, mungkin, rasanya terlalu instan sebuah fakultas dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia ini berubah nama.
Mengapa terlalu instan?
Perubahan nama seseorang mesti dilakukan, menurut budaya lokal, jika seseorang itu mengalami sakit yang berkepanjangan dalam hidupnya. Masalahnya kemudian, apakah almamater saya tersebut mengalami sakit yang berkepanjangan sebelum perubahan nama itu dilakukan?
Perubahan nama juga dilakukan, dalam ruang yang lebih besar, oleh lembaga yang sudah siap secara infrastruktur sekaligus ekstrastrukturnya. Masalahnya kemudian, apakah lembaga tersebut sudah siap secara keduanya?
Perubahan nama juga dilakukan, dalam niat yang terpuji, tidak ada kepentingan prestis, persaingan, atau akreditasi semata. Masalahnya kemudian, apakah niat terpuji itu tidak ditunggangi oleh prestis, persaingan, atau akreditasi semata itu?
Saya menulis mengenai almamater saya tanpa ada niat negatif dan tanpa ditunggangi lembaga-lembaga tertentu apalagi kubu politik tertentu. Murni dari subjek si 'saya'. Murni karena saya mencintai almamater saya. Karena, faktanya, kata 'cinta' itu berarti dengan penuh kasih menyediakan ruang khusus di dalam hati, baik atau buruk. Jika kebaikan yang ada, maka terus dipupuk agar tumbuh subur. Jika keburukan yang ada, maka dengan penuh kasih dan sepenuh hati beraksi represi maupun prevensi tanpa maksud merubah sifat asli yang istimewa dari subjek yang dicinta. Dengan begitu kata 'cinta' memang tanpa noda, tanpa prasangka, dan bertahan dengan makna yang 'visible' dan 'possible'.
Sebulan sebelum saya lulus, kira-kira di antara september-oktober 2011. Saya menyerahkan skripsi di perpustakaan fakultas (dulu namanya tentu masih perpustakaan Fakultas Sastra UNPAD) sebagai syarat mengikuti ritual wisuda sarjana, ada beberapa lembar informasi yang terpajang dan tak pernah terlupa: statistik pembaca dan pengunjung perpustakaan. Mengapa tak terlupakan? Bisa dibayangkan, saat itu, lembaga yang bersenyawa dengan literatur, tulisan, dan rangkaian kata, jumlah pembaca maupun pengunjung perpustakaan itu selalu menurun setiap tahun. Kemana perginya infrastruktur itu? Sibuk mengantri belanja di Jatinangor mall (nama disamarkan)? Sibuk berpasang-pasangangan di kosan? Sibuk dengan game online? Sibuk menyodok bola di tempat billiard atau mengantri tiket di bioskop?
Oh, saya juga mengalami itu semua. Toh saya juga bukan mantan mahasiswa yang selalu punya kegiatan yang dianggap penting. Tapi, saya cukup mencintai almamater saya. Oh, saya juga mengalami itu semua. Saya juga berbelanja, bermain game, (dulu) berpasangan, menyodok bola, dan mengantri tiket. Tapi, saya cukup mencintai almamater saya. Mencoba bertransformasi dengan kegiatan kampus agar saya tetap 'hidup' di kampus. Ya salah satunya: ke perpustakaan. Hal lainnya: membuat kampus berisik dan ramai mengganggu waktu matahari dan bulan yang istirahat. Tidak terikat himpunan atau komunitas apapun tidak masalah. Yang saya mengerti adalah ruang yang berisi mahasiswa berintelektual tajam namun serba bersahabat di luar ataupun di dalam bernama: kampus.
Belum lagi tentang porsi yang dijadikan acuan pengajaran Saya merasa bahwa, tanpa membeda-bedakan keduanya, porsi linguistik lebih banyak dibandingkan porsi sastra atau budaya sampai saat saya lulus November 2011 lalu Saya tidak bisa berbicara lebih jauh mengenai ini karena butuh riset yang panjang dan mendalam tentang pengajaran ataupun yang berkaitan dengan birokrasi kampus. Yang memiliki akses lebih banyak untuk itu adalah yang masih berperan mahasiswa saat ini.
Nasi sudah menjadi bubur. Hujan sudah turun. Sekarang, infrastuktur dan ekstrastruktur saja yang memiliki daya dalam pergulatan perubahan nama dengan kenyataan yang ada itu. Saya hanya menulis sebagai penonton yang mencintai dunia panggung, di depan ataupun di belakang.
Maaf jika ada perorangan atau pihak atau lembaga yang tersinggung. Saya kira sepatutnya tidak ada, karena, di zaman modern seperti ini sudah tidak ada manusia modern yang mudah tersinggung. Dan karena tulisan ini murni pemikiran pribadi, tulisan ini murni karena pengalaman pribadi, tulisan ini ada dalam blog pribadi, dan tulisan ini lahir karena saya mencintai almamater saya hehe. Dari tulisan ini saya menantikan diskusi dan perkembangan almamater yang melesat dan sehat. :)
Dan, saya merindukan ritual-ritual di kegiatan kampus ini.
Selamat malam.
0 comments:
Post a Comment