Sesuai dengan judul posting kali ini: tentang banjir dan panen lele.
Saya baru bangun hibernasi sore kemarin. Hujan masih gerimis. Lama-kelamaan tambah besar, besar, besaaaar. Angin kencang. Petir menggila.
Awalnya cuma tetesan bocor biasa di pinggir-pinggir atap tembok. Mbak Yati, saya, ngepel bahu membahu. Sementara Mbak Tuti nggendong Bumi dan jagain Langit supaya ga kemana-mana. Kan repot tuh kalo lagi becek-licin di lantai rumah, Langit dan Bumi malah main. Bisa-bisa rumah mendadak jadi waterboom buat mereka. Tapi kok lama-lama capek yah? Di pel, tapi ga abis-abis. Hahahaha
Posisi sebelum kebanjiran: saya di dekat pintu belakang, Mbak Yati di dekat pintu depan. Pintu depan tertutup. Nah, tiba-tiba Mbak Yati teriak: "Aduh Deniiii, ini air dari manaaa?? Banyaaak bangeeet. Gimana iniii? Gimanaaaa???" Saya cuma bengong. Gaji buta nih ngepel dari tadi. Airnya malah tambah banyak. ---_____---
Mencoba membuka pintu, malah air makin deras masuk rumah. Pintu ditutup lagi. Tapi dasarnya sifat penasaran saya tingkat dewa, saya buka pintu lagi. Masih hujan meski tidak sederas beberapa menit lalu. Pasrah. Dan, airnya menggenang semata kaki. Menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan saja jadinya. Sayangnya saya belum punya properti kamera. Sayang banget momen-momen mendadak kaya gini ga terdokumentasi.
Menggunakan ponco, saya keluar rumah. Ajaib sekali. Ajaib. Air empang dan selokan di sebelah rumah mengalir deras coklat pekat. Di kepala saya "Surga sedang turun ke bumi, bukan untuk manusia, tapi untuk ikan-ikan" hahaha. Panen ikan!
PR adalah singkatan dari Pekerjaan Rumah. Dan betul sekali betul, PR lah yang harus dikerjakan ini. Membersihkan lantai rumah yang digenangi air coklat pekat semata kaki. Mbak Yati memanggil air ini dengan sebutan, 'Air Bebek'. Memang aneh Mbak yang satu itu. Untungnya, aneh yang masih dalam tahap lawakan. Hahahaha. Langit turun dari sofa tempat dia duduk terkesima melihat genangan air sedari tadi. Saya juga ga yakin jika Langit akan tetap terkesima melihat air itu. Pasti dia penasaran. Benarlah, dia berjalan dengan kaki tergenang. Mbak Yati bilang, "Aduhhh, Mas Langit. Naik lagi. Di sofa aja. Airnya kotor ini. Air bebek." Namanya bukan Langit jika dia ga komentar setiap pertanyaan. Langit bilang, "Kok bebek? bukan ayam yah?" --____-- Begitulah Langit. Jika ada sesuatu hal yang diluar pikiran, emosi, atau pengetahuannya, selalu dihubung-hubungkan dengan ayam. "Bukan, itu ayaaaaam!" Langit selalu ngeles dengan kalimat itu jika digoda-goda saat dia sedang ngambek atau nangis.
2 kali pel lagi sudah akan selesai pekerjaan melantai ini. Sisanya, teras depan-belakang, cuci sendal-sepatu dan celana-baju yang terendam, cuci lap-lap pel, membersihkan kamar mandi. Sore tadi berubah malam. Dan malam berubah panjang.
Lantai selesai. Bu'de, tetangga sebelah, datang membawa piring berisi, sepertinya, ikan. "Ini. Semuanya pada panen lele. Ditangkap bareng-bareng. Digoreng, dimakan bareng-bareng. Sambelnya enak lho."
Saya berkata kepada diri sendiri, "berbahagia di atas penderitaan orang lain kalo gini caranya. Empang di sebelah jebol. Kan kasian pemiliknya." Bahayanya manusia itu ialah akan mudah kehilangan akal sehat jika sedang kelaparan. Malam panjang selesai. Lelah dan lapar. Jadi, lele itu saya makan. Maafkan...
0 comments:
Post a Comment