Wednesday, 23 May 2012

#53 Tanpa Celana

Ada saat berada dalam keterpaksaan. 
Ada saat berada dalam kebebasan.
Tapi, saya kira, lebih banyak saat-saat tulus sejak dari pikiran

Ini tentang chatting saya (D) dengan salah seorang kawan (R), membicarakan tema sebuah karya, teknis, dan...sekedar tukar pikiran saja. 


Yang berpakaian wisuda adalah saya dan R:



Sengaja saya potong diskusi di bagian awal karena akan terlalu bertele-tele nantinya. Berikut diskusinya:

D: lalu dari naskah itu, pergerakan kita kemana?
R: lebih mudah lewat chat... tapi gue sepertinya akan sangat jarang...sms pun oke...banyak bonus ini. haha
D: hahahaha
R: ah, pergerakan ya? itu belakangan lah. bikin aja dulu... klo misalnya suatu saat bisa difilmkan, atau dipentaskan... syukur, klo nggak, yowis...
D: oke. Saling merespon dan spontanitas aja yaa..
R: yowis... yowis... yowis dibakar maksudnya...
D: haha. via sms kayanya lebi asik
R: yup. spontan aja... seperti pembicaraan sehari-hari... masing-masing bicara karena ada tanya dan jawab...masing-masing tidak tahu bagaimna akhirnya...
D: baidewei, blogspot lo melapuk noh... barusan gue liat
R: biarin aja. gue gaptek haha. jadi gmana? tentuin harinya... waktunya... atau, gak usah pake hari... klo kepikiran, langsung sms... gimana?
D: Kapanpun. Lo tentuin tokoh, lo sms gue sesuai tokoh itu, Gue tentuin tokoh, gue bales sms sesuai tokoh gue juga
R: ya, setuju... gak usah pake target waktu ya.. sampe kita merasa udah cukup aja...
D: yohaaaa
R: setahun, atau lebih, terserahlah
D: Berarti penting banget pengarsipan ke harddisk
R: ya, minimal. masing-masing ada catatan... oke, minggu depan kita mulai. minggu ini cari karakter...
D: siaap
R: sip? satu karakter yang tidak boleh... tong jadi homo..
D: haram itu tentu
R: kecuali kalau takai ingin ikut serta..
haha
D: itu bisa diatur lah. Kita berdua dulu. Sewaktu dialog itu udah cukup kuat jd kerangka, bisa disunting sana-sini
R: ya, bedua aja dulu...asal karakter kuat pun sudah cukup seperitnya...
tadinya, gue mau ajak diar...tapi (dalam anggapan gue), gue sudah agak mengenal dia dengan dekat, jadi takut dialog yang dia buat sudah bisa gue tebak...lagian, gue juga udah pernah bikin bareng diar... klo ma lo kan, agak beda...
D: hahahah
R: lo agak, maaf, masih waras... hampir maksudnya
D: kalo gue masih waras, gue akan sudah bekerja di sebuah perusahaan, di dlm kantor, di lapangan atau dimanapun, dlm misi pemburuan uang dan kemapanan. Nah, dgn yg kedua gue masih bisa setuju... hampir waras
R: Sebenarnya, orang yang waras itu kita... termasuk orang gila yang duduk-duduk tanpa celana...
D: Tanpa celana? gawat ya kita... hahahaha
R: tanpa celana dalam arti sufi... hahaha pembenaran
D: metafornya kenapa celana?
R: karena celana tempat menyembunyikan kelamin (hal yang bagi banyak orang persoalan neraka-surga). ah, sudahlah... haha
D: jahahaha
R: sudahlah...saya harus menulis soal dahlan iskan... harus "agak dipaksa" menjadi pengagumnya... he
D: selamat berada dalam situasi keterpaksaan wahahhaa
R: haha.... contoh idealisme yang kalah oleh sebungkus rokok hahahaha

D: wahahhaa. Ada saat berada dalam keterpaksaan. Ada saat berada dalam kebebasan. Tapi lebih banyak saat-saat tulus sejak dari pikiran 
R: hmm. gue pikir, merokok pun merupakn saat-saat yang tulus dari pikiran... hehehehehe. ok. selamat mencari karakter... selamat malam.
D: Okeh. Selamat hampir sepertiga malam.


Saya sering berada dalam diskusi seperti ini, hanya saja baru kali ini saya, entah kenapa ingin ikut menuliskannya dalam blog. Saya pikir, diskusi seperti ini, adalah harta. Proses kreatif dalam menjadikan sebuah karya, adalah harta yang berharga, begitu juga dengan hubungan dan silaturahmi terhadap sesama, keluarga, kawan. Semoga saya tidak salah mengutip kata-kata Mas Hanafi suatu waktu: "Saya yang menjadikan karya, bukan karya yang menjadikan saya." Dan, menurut saya, sangat rendah sekali jika berpikir tentang kecil atau besarnya sebuah karya, justru proses bersama ketulusannya lah yang menjadi nyawa sebuah karya.


Sengaja saya menulis judul posting kali ini adalah "tanpa celana" karena sepertinya itu metafor yang paling dekat dengan kemapanan, uang, dan segala bentuk fisik sebagai pameran dan kemaluan pribadi belaka, bukan sebagai kendaraan pencapaian. Terima kasih kepada R yang telah memberikan stimulan, tema dan judul secara langsung, "Tanpa Celana", dan juga tentu atas diskusinya. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi kaya, tidak juga ada yang menuntut kita menjadi miskin. Tapi, jika masih saja pergunjingan di antara sesama manusia adalah mengenai kekayaan dan kemiskinan, maka tak lama lagi dunia akan dipenuhi oleh orang-orang (tentu sebagian besar adalah angkatan muda--usia anak-anak hingga paruh baya) yang tidak lagi mengenali gerakan perasaannya sendiri. Sudah terlalu banyak angkatan muda yang mapan, yang berlimpah harta, tahta, dan (banyak) pasangan. Saya pun ingin seperti itu, wajar. Tapi, saya ingin mengakui bahwa saya belum mau menjadi mapan karena saya belum matang.

Mapan sebelum matang akan mengganggu kerja alam...
Pukul 02.36. Selamat sepertiga malam, kawan...

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com