Gambar di ambil dari sini
Sutradara : Julie
Bertucceli
Penulis : Judy Pasco
(novel), Julie Bertucceli
Produser : Sue Taylor,
Yael Fogil, Laetitia Gonzalez
Aktor : Charlotte Gainsbourg, Aden
Young, Marton Csokas, Morgana Davies, Christian Byers, Tom Russel, Gabriel
Gotting
Tanggal Rilis : 23 Mei 2010 (Cannes)
11
Agustus 2010 (Prancis)
30
September (Australia)
Durasi :
110 menit
Distributor : Zeitgeist
Film (US), Le Pecte (Prancis), Transmissions Films (Australia)
Official site : disini
Saya menonton film ini sampai mengulang 3 kali.
Di awal film, saya sudah dikejutkan.
Seumur hidup, saya belum pernah melihat ada rumah yang bisa diangkut
menggunakan truk container. Tinggallah
Dawn dan Peter bersama 4 orang anaknya di kampung kecil di Australia, di rumah
tersebut. Di halaman rumah mereka, berdiri sebuah pohon raksasa, Moreton Bay
Fig (Ficus macrophylla). Saya kira,
film ini akan menyenangkan hati saya karena sudah ada bayangan tentang halaman
luas, pohon besar, dan anak-anak kecil. Namun, Peter meninggal di waktu yang
tak siapapun bisa menduga. Bayangan saya salah. Film ini begitu curang.
Merenggut kebahagiaan sebuah keluarga cepat sekali.
Dawn begitu
terpukul. Ia menangis berhari-hari, menjadi pemurung dan pemarah. Balita Lou tak kunjung
bicara. Simone menceritakan suatu rahasia pada Dawn, bahwa di pohon Fig itu,
ayahnya ada dan bisa berbicara. Siapa yang akan percaya?
Di tengah hari-hari
yang terputus-putus itu, Dawn bertemu George. Simone merasa kehadiran George
sebagai ancaman baginya, keluarganya, dan pohon—ayah—nya. Namun di lain sisi,
pohon itu juga merusak pagar tetangga, ‘mencuri’ persediaan air rumah, merusak
rumah mereka sedikit demi sedikit.
Mungkin saja ada yang menganggap film ini
membosankan karena tidak sesuai dengan harapannya atau genre film kesukaannya.
Perlu kesabaran dan rasa ingin paham yang agak ekstra untuk menonton film yang
melelahkan ini. Soal yang diangkat film ini ialah yang tabu dan yang kerap
menyeret jati diri kita ke tempat tak bernama. Disaat kita masih butuh waktu
berkabung atas meninggalnya orang yang paling dekat dengan kita, dunia seperti
tak mau diam dan mengerti. Ketika kita mesti merelakan perpisahan dengan
seseorang yang begitu berharga, namun di
saat yang sama kita juga kehilangan diri sendiri. Seperti berjalan membawa air
dengan tangan yang telanjang ke tempat dimana kita boleh meminumnya. Kurang
ajar.
Bahwa mencapai ‘cukup’ akan sulit jika
sebelumnya kita masih membawa harapan. Ini bukan berarti saya menganjurkan
untuk berhenti berharap saat ini juga. Justru dengan begitu, saya menganggap
bahwa untuk menonton film ini baik sekali jika jangan mengharapkan
apa-apa sebelum menontonnya. Kalaupun masih merasa belum cukup, coba saja cari
novelnya. J
Film ini diproduksi atas kerja sama antara Australia-Prancis yang
diadaptasi dari novel “Our Father Who Art In The Tree” karya Judy Pasco,
seorang penulis dan aktor. Film yang berlokasi di desa kecil Boonah, Queensland,
Australia ini membongkar rahasia bahwa ketika kita sedang bersedih, kita lalu
cenderung menghadapinya dengan imajinasi, menyatakan imajinasi sebagai
perlawanan kita pada kesakitan dalam
hidup yang, mau tak mau, harus dijalani.
Harus dijalani dan tetap bersama.

0 comments:
Post a Comment