Sunday, 7 June 2015

Resensi Film - The Tree

Gambar di ambil dari sini

Sutradara      : Julie Bertucceli
Penulis           : Judy Pasco (novel), Julie Bertucceli
Produser        : Sue Taylor, Yael Fogil, Laetitia Gonzalez
Aktor              : Charlotte Gainsbourg, Aden Young, Marton Csokas, Morgana Davies, Christian Byers, Tom Russel, Gabriel Gotting         
Tanggal Rilis  : 23 Mei 2010 (Cannes)
                        11 Agustus 2010 (Prancis)
                        30 September (Australia)
Durasi             : 110 menit
Distributor     : Zeitgeist Film (US), Le Pecte (Prancis), Transmissions Films (Australia)
Official site    disini

Saya menonton film ini sampai mengulang 3 kali.
Di awal film, saya sudah dikejutkan. Seumur hidup, saya belum pernah melihat ada rumah yang bisa diangkut menggunakan truk container. Tinggallah Dawn dan Peter bersama 4 orang anaknya di kampung kecil di Australia, di rumah tersebut. Di halaman rumah mereka, berdiri sebuah pohon raksasa, Moreton Bay Fig (Ficus macrophylla). Saya kira, film ini akan menyenangkan hati saya karena sudah ada bayangan tentang halaman luas, pohon besar, dan anak-anak kecil. Namun, Peter meninggal di waktu yang tak siapapun bisa menduga. Bayangan saya salah. Film ini begitu curang. Merenggut kebahagiaan sebuah keluarga cepat sekali.
            Dawn begitu terpukul. Ia menangis berhari-hari, menjadi pemurung dan pemarah. Balita Lou tak kunjung bicara. Simone menceritakan suatu rahasia pada Dawn, bahwa di pohon Fig itu, ayahnya ada dan bisa berbicara. Siapa yang akan percaya?
             Di tengah hari-hari yang terputus-putus itu, Dawn bertemu George. Simone merasa kehadiran George sebagai ancaman baginya, keluarganya, dan pohon—ayah—nya. Namun di lain sisi, pohon itu juga merusak pagar tetangga, ‘mencuri’ persediaan air rumah, merusak rumah mereka sedikit demi sedikit. 
Mungkin saja ada yang menganggap film ini membosankan karena tidak sesuai dengan harapannya atau genre film kesukaannya. Perlu kesabaran dan rasa ingin paham yang agak ekstra untuk menonton film yang melelahkan ini. Soal yang diangkat film ini ialah yang tabu dan yang kerap menyeret jati diri kita ke tempat tak bernama. Disaat kita masih butuh waktu berkabung atas meninggalnya orang yang paling dekat dengan kita, dunia seperti tak mau diam dan mengerti. Ketika kita mesti merelakan perpisahan dengan seseorang yang begitu berharga,  namun di saat yang sama kita juga kehilangan diri sendiri. Seperti berjalan membawa air dengan tangan yang telanjang ke tempat dimana kita boleh meminumnya. Kurang ajar.
Bahwa mencapai ‘cukup’ akan sulit jika sebelumnya kita masih membawa harapan. Ini bukan berarti saya menganjurkan untuk berhenti berharap saat ini juga. Justru dengan begitu, saya menganggap bahwa untuk menonton film ini baik sekali jika jangan mengharapkan apa-apa sebelum menontonnya. Kalaupun masih merasa belum cukup, coba saja cari novelnya. J
         Film ini diproduksi atas kerja sama antara Australia-Prancis yang diadaptasi dari novel “Our Father Who Art In The Tree” karya Judy Pasco, seorang penulis dan aktor. Film yang berlokasi di desa kecil Boonah, Queensland, Australia ini membongkar rahasia bahwa ketika kita sedang bersedih, kita lalu cenderung menghadapinya dengan imajinasi, menyatakan imajinasi sebagai perlawanan kita pada kesakitan  dalam hidup yang, mau tak mau, harus dijalani.


Harus dijalani dan tetap bersama.

0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com