Mata-mata yang kegelapan
Sebab ia tak bisa berjalan
Tiba-tiba saya merasa rindu sekali pada tawamu yang lepas
Hujan!
Bayangan saya sebelum datang ke negara ini, seperti kamu pada
umumnya. Negara ini: bersih; serba canggih; memiliki penduduk yang cerdas di
atas rata-rata, disiplin, tepat waktu, dan giat; saling menghargai satu sama
lain; dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan bayangan itu, tetapi…
Hal paling dasar dari media ialah menyampaikan sesuatu. Dari kecil,
kita terbiasa mendengarkan. Kita tidak begitu akrab dengan membantah apa yang
disampaikan orang lain kepada kita. Atau, bila menggunakan kata yang lebih
lembut, kita jarang sekali merespon dengan lantang atas apa yang kita dengarkan
dari orang lain. Kita adalah penurut-penurut yang setia. Berdiskusi apalagi.
Dari apa yang kita dengarkan, belum tentu kita dapat merasakan apa
yang betul-betul terjadi pada kenyataannya. Begitulah Jepang. Begitulah
Indonesia. Begitulah Prancis. Begitu pula, negara-negara lain. Dimanapun kita
berada, disitulah kenyataan. Di tempat lain yang pernah kita kunjungi
sekalipun, akan selalu ada perubahan yang terjadi. Kenyataan yang terjadi tidak
akan dapat sepenuhnya kita rasakan kecuali kita berada langsung di tempat
tersebut. Maka dengan mendengarkan saja, membaca (bacaan tanpa fakta seperti
berita-berita copas atau opini ngawur
yang selalu marak di media sosial) saja, hanya opini belaka yang sebetulnya
kita dapat.
Saya tidak bisa menceritakan Jepang versi teman saya yang bisa bekerja di Jepang tanpa mampu berbahasa Jepang sama sekali, versi Perdana Menteri Abe, atau
versi Haruki Murakami. Yang saya ceritakan adalah Jepang versi saya. Tapi salah
satu yang saya dapatkan di Jepang ialah orisinalitas. Memang bila dilihat dari
sejarahnya, Jepang setelah Restorasi Meiji sekitar tahun 1866 membentuk
kepribadiannya dari negara-negara luar. Saya tak bisa membayangkan, berapa
banyak lini di negara ini yang berasal dari jiplakan kebudayaan negara luar.
Saat liburan, kaca mata hitam jangan sampai ketinggalan. Penting.
Mulanya
kita meniru cara Ibu mencuci pakaian
kita menyalin tanda tangan Ayah
Disini juga ada yang terlambat datang kerja. Disini juga ada yang
putus sekolah. Disini juga ada yang tak menghargai orang, buang sampah
sembarangan, tidak bisa membaca kanji, dan lain-lain.
Tapi darimana orisinalitas itu berasal? Di luar dari apa yang kita
tahu dari media, bagaimana Jepang bisa menjadi negara seperti sekarang?
“Bad artists copy. Good Artists steal.” – Picasso.
Ini mudah-mudahan bisa jadi pembuka tulisan saya atas permintaan
salah satu sahabat terbaik, Yoga Hastyadi, di sebuah halaman #butuhlibur, dan
mudah-mudahan bisa melepaskan kekang yang ada di dalam.
Karena liburan berarti bahwa kita melepaskan segalanya
dan membawa kembali apa yang telah kita lepaskan
0 comments:
Post a Comment