Friday, 15 June 2012

#64 Daerah Perbatasan - Soebagio Sastrowardoyo

Daerah Perbatasan -  Subagio Sastrowardoyo

I

Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan : Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi.

Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia, Juga kehormatan bagi manusia dan keturunan. Atau kita menyerah saja kepada kehinaan dan hidup tak berarti.

Lebih baik mati. Mati lebih mulia dan kekal daripada seribu tahun terbelenggu dalam penyesalan. Karena itu kita tetap di pos penjagaan atau menyusup di lorong-lorong kota pedalaman dengan pestol di pinggang dan bedil di tangan.

(Sepagi tadi sudah jatuh korban.) Hidup menuntut pertaruhan, dan kematian hanya menjamin kita menang. Tetapkan hati. Tak boleh lagi ada kebimbangan di tengah kelaliman terus mengancam. Taruhannya hanya ati.

II

Kita telah banyak kehilangan waktu dan harta, kenangan dan teman setia selama perjuangan ini. Apa yang kita capai : Kemerdekaan buat bangsa, harga diri dan hilangnya ketakutan kepada kesulitan.

Kita telah tahu apa artinya menderita di tengah kelaparan dan putus asa. Kematian hanya tantangan terakhir yang sedia kita hadapi demi kemenangan ini.

Percayalah :

Buat kebahagiaan bersama tak ada korban yang cukup berharga. Tapi dalam kebebasan ini masih tinggal keresahan yang tak kunjung berhenti : apa yang menanti di hari esok : kedamaian atau pembunuhan lagi.

Begitu banyak kita mengalami kegagalan dalam membangun hari depan : pendidikan tak selesai, cita-cita pribadi hancur dalam kekalahan bertempur, cinta yang putus hanya oleh hilangnya pertalian.

Tak ada yang terus bisa berlangsung.

Tak ada kepastian yang bertahan.

Kita telah kehilangan kepercayaan kepada keabadian. Semua hanya sementara : cinta kita, kesetiaan kita. Kita hidup di tengah kesementaraan segala. Di luar rumah terus menunggu seekor srigala.  
III
*bersambung (kebetulan saya akan pergi).



0 comments:

Post a Comment

 
 
Copyright © mixkir
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com