: Recall, Recollect, Reconsider, Reconstruct, Rebuild, Re-create
Untuk
kali kedua, saya membaca “Jejak Langkah” karya Pram. Begitulah kecenderungan
diri saya yang mulai saya kenali. Akan berulang kali saya cumbu jika buah karya
seseorang dalam bentuk apa saja mampu membuat saya insaf. Film-film dan
karya-karya bentuk audio visual lain biasanya lebih mudah dicumbu ketimbang
karya-karya bentuk literer karena dapat dihenti-putar ulangkan dengan cepat.
Sebaliknya, karya-karya bentuk literer lebih membutuhkan banyak waktu dan
tenaga untuk dicumbui karena lebih menuntut kerelaan diri membebaskan imajinasi
rasa dan penginderaan seliar-liarnya sementara kita terjebak dalam
keluhan-keluhan pada realitas, logika, dan batas-batas. Namun, bukan berarti
mencumbu karya-karya audio visual menjadi lebih mudah. Beda proses antara
keduanya.
“Jejak Langkah” adalah buku
ketiga dari Tetralogi Pulau Buru di antara “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”,
dan “Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer.
Seperti yang mungkin juga orang-orang maklum, Tetralogi Pulau Buru
pernah dianggap sebagai karya sastra yang diharamkan oleh pemerintah karena
dianggap mengintimidasi dan ‘mengacaukan’ cara pandang masyarakat Indonesia.
Karenanya, Pram dicengkram oleh besi-besi karat di ruangan paling hina dan
primitif di dunia selama bertahun-tahun, tanpa proses pengadilan;
karya-karyanya dilenyapkan secara massal.
Tentang ulasan saya terhadap buku ini, pasti tidak akan ada apa-apanya dengan ulasan-ulasan yang pernah ada. Saya hanya berniat menambahkan keremehan dalam ulasan karya yang terlanjur masterpiece ini. Hal-hal yang remeh, saat ini, sudah lumrah diejawantahkan oleh orang-orang sebagai 'yang tidak memiliki pengaruh apa-apa', malah sebagai 'yang terlupakan' dan 'yang dilupakan'. Sewaktu sekolah dasar dulu, mengulas sebuah pekerjaan rumah, bacaan, dan buku adalah hal yang paling mendorong diri untuk memohon keajaiban dari Tuhan agar secepatnya lonceng dibunyikan sebagai petanda waktu pulang. Namun saat ini, saya merindukan ruangan kelas itu, bersama Bapak/Ibu guru dan kawan-kawan sekelas, mengurai aljabar, mengulas cerita si kancil, atau sekedar membahas pelaksana upacara senin pekan depannya. Saya tidak lagi ingin cepat-cepat mendengar suara lonceng itu.
Lalu, beranjak sekolah menengah, lalu perguruan tinggi. Saya kehilangan asyiknya keremehan itu. Hingga saat ini, setelah lepas dari perguruan tinggi, saya semakin kehilangan asyiknya kebebasan mengulas. Mulanya mengulas secara permukaan, lambat kemudian tak tersadar sedikit menyelam ke dalam. Dan saat ini, dunia sedang kurang menyediakan ruang yang akrab untuk saling mengulas. Dan saat ini, dunia semakin memberi kita batas-batas saling-membuka-cakrawala. Dan saat ini, dunia padat sesak dengan peristiwa pemaksaan kemauan-kepentingan pribadi/golongan belaka. Dan saat ini, di balik wajah demokratis, dunia semakin malu menyembunyikan dirinya.
Setelah berusaha mengosongkan
kepala dari ingatan dan pengalaman sisa-sisa proses pembacaan yang pertama; dan
dari kekakuan berpikir dan merasa, saya membacanya. Di 20 halaman pertama, saya
diingatkan kembali perihal kesamaan hak, rasa penghargaan terhadap sesama, ke-tak
gentar-an, dan hal-hal selain keping koin. Berikut kutipannya:
“Jangan coba-coba sekasar itu padaku, tantangku dalam hati. Jangan coba-coba menganiaya kopor busuk yang nampak hina dusun itu. Isinya lebih berharga dari semua kalian, calon-calon dokter keparat! Kalian harus kenal aku dulu, sebagaimana aku harus kenal kalian. Dalam kopor itu tersimpan pikiran-pikiranku yang terbaik: catatan, surat-surat, termasuk surat persahabatan dan percintaan, guntingan koran, naskah-naskah romanku—semua mungkin lebih dari dua kilogram. Pernah kalian punya harta seberat itu? Dan surat-surat berharga dari orang-orang lain juga—dan semua itu takkan pernah kalian dapatkan dan miliki? Belum lagi surat-surat dari Bunda. Aku tak percaya kalian punya ibu seperti ibuku. Juga aku tak percaya kalian punya pengalaman seperti yang pernah aku rasai dan simpulkan dalam catatan. Kalian, calon-calon pemakan gaji Gubermen, calon-calon priyayi.” (2006, 19-20)
*つづく
*bersambung
*bersambung

0 comments:
Post a Comment