Kalau kita hanya realis belaka dan hanya berpijak pada pragmatika data faktual yang terjadi, maka pasti kita akan ikut tenggelam dalam rawa-rawa korup tanpa tepi, serba l’exploitation de l’homme. Tetapi jika kita lari dari realita dan menjadi idealis murni, kita akan menguap kabur, hilang.
Orang pasti bilang, kita harus kompromi. Tetapi, kompromi tanpa karakter serba oportunis (apalagi: ikut yang menang saja) justru akan membuat kita menjadi bola yang ditendang kian kemari sampai saatnya kita bocor tak tertolong, dibuang di lubang sampah.
Apa ikut sajakah menjala di air keruh, mumpung serba realis? Ataukah melawan arus bengawan menjadi paria dengan istri, sakit, dan anak-anak kacau?
-YB Mangunwijaya dalam artikel Les Belles De Nuit, di dalam kumpulan artikel-essay “Puntung-puntung Rara Mendut”.
0 comments:
Post a Comment