Saya terpukul.
Di saat-saat akhir seperti ini, mengapa sisi emosional saya bergejolak dari dasar diri yang paling dalam. Saya goyah. Perahu layar yang terombang-ambing ombak dan angin badai di tengah samudera. Ya saya ini. Sehelai daun kering yang terhempas laju angin dari mobil yang melintas. Ya saya ini.
Sebenarnya sudah berkali-kali saya tanamkan dalam diri, bahkan saya seringkali memberikan peringatan, atau wejangan, atau nasihat mengenai rasa kepercayaan di dalam diri, dalam pertemanan, dalam waktu dua orang kawan sejoli yang sedang mengalami krisis hubungan dan kepercayaan, ataupun dalam waktu memesan makanan di warung kopi di seberang jalan.
Tapi, saat ini saya terpukul untuk kesekian kali.
Pelatihan mabim Origami 2011 sudah akan berakhir. Sejak tahun kedua kuliah, hingga 2 minggu menjelang sidang skripsi seperti ini, saya masih gandrung terhadap kegiatan mahasiswa, apalagi seperti kegiatan penerimaan mahasiswa baru sekaligus pelatihan untuk kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru seperti ini. Padahal bersamaan ada dengan tanggung jawab-tanggung jawab yang super ketat dengan deadline.
Saya paham mengapa kegiatan itu selalu intresan untuk saya. Jodoh memang tidak ada yang tahu selain Sang Maha Tahu. Melalui kegiatan penerimaan mahasiswa baru, saya menemukan jodoh hakiki untuk saya, s-a-y-a s-e-n-d-i-r-i. Lalu perjodohan beriringan muncul lagi-muncul lagi, dengan seni, teater, sastra, film, kawan, sahabat, kekasih, cinta, keluarga, sesama, alam, dan kehidupan. Pertemuan-pertemuan itu melapangkan sungai hati dan jiwa. Pertemuan-pertemuan itu menyulut percikan-percikan kembang api di kala perayaan ulang tahun di tengah malam hutan gelap gulita
Dalam pelatihan selalu ada simulasi. Dalam simulasi selalu ada evaluasi. Dalam evaluasi selalu ada perbaikan. Dalam perbaikan selalu ada penerapan kembali. Begitu seterusnya kenyataan yang berputar. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup bukankah merupakan dialektika yang terjadi berulang-ulang melalui evolusi yang sangat lambat dengan kejutan-kejutan revolusi setiap saat?
Mudah-mudahan ini hanya perasaan saya saja yang seringkali merasa sentimental dan emosional dalam saat-saat terakhir seperti ini. Tetesan hujan kenangan-kenangan muncul kembali hingga mengalir deras ke sungai, danau, teluk, dan lautan melalui selokan-selokan kecil penuh plastik-plastik. Semuanya serba gentayangan. Apa yang telah saya lakukan sedari saya kecil hingga kini? Berguna apa? Ataukah merugi belaka?
Mengenai “kepercayaan” yang kali ini terhunus di depan mata. Seorang kakak bersama-sama berdialog dengan adiknya dalam memecahkan bayangan-bayangan. Dengan sama-sama membangun kesabaran, kakak bersama adiknya menghadapi pertanyaan mengenai ketidakjelasan dan keragu-raguan menghadapi hari ujian, hari tujuan, hari pelaksanaan.
Lewat kenyataan-kenyataan yang pernah dilalui lebih dahulu dari seorang adik, seorang kakak menyampaikan pengalaman-pengalamannya dengan tidak mengurangi rasa kepercayaan dan penghargaan akan kemampuan-kemampuan si adik. Kakak mengharapkan performa maksimal dari adiknya. Kakak menyesuaikan percakapannya dengan kemampuan dan kemauan si adik. Kakak waspada terhadap kelebihan ataupun kekurangan ukuran baju yang diperuntukkan dipakai oleh si adik. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya performa maksimal. Kakak menyayangi adiknya, begitupun adik terhadap kakaknya. Namun, realita terjadi bukan tanpa problema dramatik, patetik, dan mungkin juga yang hektik.
Perasaan diri adik yang masih kuncup membenarkan dan mengingatkan juga akan kebutuhan limpahan air dari kelopak si kakak. Adik belum apa-apa sudah tersengat lebah yang kepagian berburu madu dibanding kawanan lebah-lebah di belakangnya. Terlalu kuncup untuk dihisap. Terlalu kuncup untuk dihisap. Terlalu kuncup untuk dihinggap. Namun, kuncup jugalah yang akhirnya akan mekar menjadi bunga yang serba kokoh dalam keindahannya, serba perkasa dalam keharumannya, serba menarik dalam jangkauan kelopak-kelopak mekarnya.
Pengalaman seperti ini, mengikut dengan istilah yang acap dikatakan Romo Mangun, saya ingin menyebutnya sebagai situasi pascadiri. Setelah berpasang-pasang musim dilalui, akhirnya pohon jati dapat ditebang juga. Setelah kering kerontang tenggorokan, akhirnya adzan magrib berkumandang juga. Setelah angka 9 di setiap perhitungan, akhirnya muncul angka 0 juga.
Sewaktu sebatang rokok, punggung saya merekat di dinding, sementara pelatihan dan simulasi tetap berjalan. Saya melayang-layang. Saya terpukul-pukul. Saya ditebang. Saya kering kerontang. Saya di angka 0. Situasi pascadiri ini mudah-mudahan banyak membawa kebaikan dan keberkahan. Amiin…
*Untuk mabim Origami 2011: Yakinlah akan berjalan lancar.
0 comments:
Post a Comment