Siang itu, saya mengendarai mobil milik kakak saya. Baru saja tiba dari Bandung. Adik nenek dari pihak ayah akan kami jemput. Tapi, setibanya di Serang, kakak saya langsung berkumpul bersama rekan-rekan kerja untuk survey lapangan, di Anyer, Banten, sehingga saya berkendara sendiri pulang ke rumah.
Di perempatan jalan, perasaan angkuh yang terasa. Saya terlihat seperti eksekutif muda pemilik mobil sekaligus anak manja yang berkendara mobil pungutan dari orang tua. Kontradiktif. Di saat yang sama, saya berada di luar mobil sambil melihat diri, mengagumi diri. Betapa tidak menguntungkannya perasaan angkuh seperti itu. Di sisi lain, saya adalah manusia miskin lahir batin.
Saya menyesal merasa angkuh.Saya mengutuk diri. Betapa kenyataan yang terlihat dari luar kaca mobil serba transparan adalah muslihat belaka.
You can imagine how really fake this unreal seen!
0 comments:
Post a Comment