Saya baru menyadari alasan kenapa dalam 6 tahun terakhir ini selera musik saya berpindah ke genre musik bertempo lambat, seperti yang dibawakan oleh Daniel Sahuleka, Chet Baker, Curtis Fuller, Tompi, dan prajurit jazz lainnya. Saya juga mendengarkan genre post rock, dan musisi-musisi seperti Pink Floyd, Dream theater, Toe, The Trees and The Wild, Glenn Hansard, Frau, atau bahkan musik-musik indie balada Indonesia, seperti Mukti-mukti, Ary Juliyant, Ary Tretura, Egy Fedly, Rizal Abdulhadi, Deu Galih, Ganjar Noor, dan lain-lain.
Saya memang bukan seorang yang memiliki kemampuan lebih dalam mencipta maupun menilai sebuah karya, simfoni, melodi, dan nada harmonis. Namun, musik bertempo pelan dalam genre apapun dirasa mampu membuat pendengarnya, penikmatnya lebih menghargai sebuah proses daripada hasil akhir. Menikmati dengan hati yang penuh dan merelakan diri terbuai oleh detil-detil instrumen dan vokal yang terangkum dalam sebuah lagu.
Bukan berarti saya membagi-bagikan orang-orang pecinta musik garis keras tidak menghargai proses atau lebih menghargai hasil akhir yang berarti sikap praktis, instan, dan cepat saji. Musik tempo keras, begitupun genre-genre musik yang lain, perlu apresiasi dengan syarat penilaian dan penghargaan akan keseluruhan karya. Sebuah karya tidak boleh tidak serius digarap. Dalam cipta lagu, dari inspirasi dan imajinasi; lirik; keharmonisan nada, vokal, instrument; rekaman; editing; mastering; copying, dan lain sebagainya, mesti tekun dijalani. Justru, dalam pada ini saya mengakui bahwa orang-orang yang menyukai musik garis keraslah pemerhati musik yang jujur dengan cara mereka sendiri. Lihat saja musik-musik underground yang hingga kini masih ada meskipun terdiaspora (meminjam peristilahan paskakolonial yang kebetulan menjadi metode pendekatan skripsi kawan saya, Anita Abrianti) atau terpinggirkan.
Kembali ke masa kini, ke kondisi selera musik (saya khususkan di Indonesia gemah ripah loh jinawi subur makmur aman tentram damai ini) orang-orang. Musik mainstream saat ini adalah yang membawa cita-cita luhur cinta, yang berbicara mengenai cinta yang tidak akan ada pangkalnya. Ia begitu suci tak terbantahkan, begitu perkasa tak terkendali, begitu lihai membuai, dan begitu jauh dari nalar.
Tapi, sayangnya… Ya, sayangnya, musik mainstream saat ini yang membawa cita-cita luhur cinta, kurang menelusuri lorong-lorong lirik cinta yang dalam. Bukankah hidup kita menempel erat dengan cinta? Dan, bukankah cinta mengajarkan kedalaman rasa, hati, dan pemikiran melalui hal-hal remeh maupun berat dalam hidup? Lirik yang tercipta malah justru terdengar picisan, rendah, hemat. Bahkan ada saja lagu yang hanya memiliki 2 atau 3 kata dalam liriknya. Tetapi bukankah hemat itu baik? Hemat pangkal kaya. Ya, kaya yang berujung pada tuntutan kesenangan belaka, dan sederhana. Ini soal lain lagi. Sederhana. Tugas sakral untuk sederhana yang sederhana, bukan sederhana yang sengaja disederhanakan sebagai jalan pintas menghindari kerepotan, kedalaman batin, dan kepenuhan hati pikiran.
Sekali lagi, sayangnya… Ya, sayangnya, musik mainstream kala ini cenderung praktis, instan, hemat, sederhana, dan tidak ingin repot. Memang praktis mengandung makna kemudahan. Siapa orang yang tidak ingin mencari jalan kemudahan? Siapa juga yang mau repot-repot? Tapi, jalan kemudahan harus disadari untuk menghindari diri dari keterbelakangan moral. Kemudahan harus dijauhkan dari belaka rasa senang saat titik hasil sudah tercapai. Kemudahan dijalani untuk lebih menikmati proses, bukan tujuan…
Oh, musik mainstream…
Oh, industri musik Indonesia…
0 comments:
Post a Comment